Mahasiswa KKM Universitas Bina Bangsa Kelompok 09 Ubah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi, Buka Peluang Wirausaha Baru bagi Ibu Rumah Tangga

Serang (8/8/2026) – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa Kelompok 09 menghadirkan inovasi pengelolaan limbah rumah tangga melalui Program Kerja JELITA (Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi) yang dilaksanakan pada Sabtu (8/8/2026) di lingkungan RT 04, Kelurahan Cigoong, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Kegiatan yang diikuti oleh ibu-ibu setempat ini tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengelolaan minyak jelantah, tetapi juga memperkenalkan keterampilan yang berpotensi dikembangkan menjadi peluang wirausaha baru bagi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pada siang hari tersebut diawali dengan edukasi mengenai pentingnya mengelola minyak jelantah dengan tepat. Mahasiswa menjelaskan bahwa pembuangan minyak jelantah secara sembarangan dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Minyak yang dibuang ke saluran pembuangan dapat menyebabkan penyumbatan, sementara pembuangan langsung ke tanah berpotensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pemanfaatan agar minyak jelantah tidak hanya menjadi limbah, tetapi dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Melalui Program JELITA, mahasiswa memperkenalkan salah satu alternatif pemanfaatan minyak jelantah dengan mengolahnya menjadi lilin aromaterapi. Kegiatan dikemas dalam bentuk edukasi dan praktik langsung sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman membuat produk secara mandiri.

Dalam demonstrasi, mahasiswa menjelaskan tahapan pengolahan minyak jelantah sebelum digunakan sebagai bahan dasar lilin. Minyak jelantah terlebih dahulu direndam menggunakan arang selama kurang lebih 24 jam untuk membantu mengurangi bau yang terdapat pada minyak. Setelah itu, minyak disaring untuk memisahkan kotoran dan sisa arang sehingga diperoleh minyak yang lebih bersih.

Minyak yang telah disaring kemudian dicampurkan dengan stearic acid sebagai bahan pengeras lilin dengan perbandingan yang telah ditentukan. Campuran selanjutnya diberikan pewarna sesuai dengan pilihan peserta, kemudian dipanaskan sambil diaduk hingga bahan tercampur dan stearic acid larut secara sempurna. Setelah campuran tidak terlalu panas, ditambahkan bahan pewangi seperti minyak esensial atau pewangi lainnya sesuai pilihan.

Tahap terakhir adalah menuangkan campuran ke dalam cetakan yang telah dilengkapi dengan sumbu lilin. Campuran kemudian didiamkan hingga mengeras dan membentuk lilin aromaterapi yang siap digunakan.

Setelah demonstrasi, ibu-ibu peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan sendiri seluruh tahapan pembuatan. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka mengikuti proses, bertanya, serta mencoba menghasilkan produk sesuai kreativitas masing-masing. Peserta berhasil membuat lilin aromaterapi secara mandiri dan membawa pulang hasil praktik sebagai pengalaman sekaligus contoh produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Universitas Bina Bangsa Kelompok 09, Rani Puspa, S.E., M.M., mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam merancang program yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program JELITA ini menarik karena menggabungkan dua aspek sekaligus, yaitu kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Minyak jelantah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai jual. Saya berharap keterampilan yang diperoleh ibu-ibu tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk rumahan yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Menurut Rani Puspa, keterampilan tersebut dapat menjadi titik awal bagi ibu rumah tangga untuk mengenal proses sederhana dalam menciptakan produk, mulai dari produksi, pengemasan, penentuan harga, hingga pemasaran. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, lilin aromaterapi dapat diarahkan menjadi salah satu produk kreatif yang memiliki ciri khas dari Kelurahan Cigoong.

“Kalau dikembangkan dengan serius, produk seperti ini bisa menjadi salah satu alternatif usaha rumahan. Tentu masih diperlukan pengembangan dari sisi kualitas produk, desain kemasan, branding, perhitungan biaya produksi, dan pemasaran. Tetapi kegiatan hari ini sudah menjadi langkah awal yang baik,” tambahnya.

Rani Puspa juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKM Universitas Bina Bangsa Kelompok 09 yang telah berinisiatif menyusun dan melaksanakan Program JELITA dengan pendekatan yang kreatif dan aplikatif. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berupaya menciptakan kegiatan yang memberikan keterampilan praktis dan peluang pengembangan ekonomi bagi masyarakat.

Apresiasi turut diberikan kepada ibu-ibu peserta dari RT 04 yang telah mengikuti kegiatan dengan penuh antusias dan bersedia mencoba secara langsung seluruh proses pembuatan lilin aromaterapi. Partisipasi aktif peserta menjadi bagian penting dalam keberhasilan kegiatan sekaligus menunjukkan adanya minat masyarakat untuk memperoleh keterampilan baru yang dapat dikembangkan di lingkungan rumah tangga.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kelurahan Cigoong, Ketua RT, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Dukungan dan keterbukaan masyarakat menjadi faktor penting dalam memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melaksanakan program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat.

Program JELITA diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan satu kali, tetapi dapat menjadi awal dari pengembangan usaha mikro berbasis pemanfaatan limbah rumah tangga. Ibu-ibu yang telah mengikuti pelatihan dapat mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri maupun secara berkelompok dengan memanfaatkan minyak jelantah yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bahan baku. Selain menghasilkan produk yang bermanfaat, pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memberikan nilai ekonomi.

Melalui Program Kerja JELITA, mahasiswa KKM Universitas Bina Bangsa Kelompok 09 menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dirancang secara kreatif dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi. Ke depan, dengan pendampingan dan pengembangan produk yang tepat, lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah berpotensi menjadi salah satu alternatif produk usaha rumahan bagi masyarakat Kelurahan Cigoong. .#red_ESC.News-2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *